PT Bestprofit Medan

Banyak Permasalahan, Garuda Butuh Dukungan Pemerintah

Best profit Futures7Best Profit Futures – Garuda Indonesia perlu mendapatkan dukungan pemerintah untuk mengelola bandara atau terminal. Maskapai penerbangan nasional ini membutuhkan supportuntuk mengatasi berbagai kendala. Saat ini, pembangunan infrastruktur kalah cepat dibanding pertumbuhan penumpang di Indonesia yang pesat. Terbatasnya run way menyebabkan pesawat harus menunggu antre lama saat take off dan landing, sehingga memboroskan bahan bakar.

Hal tersebut dikemukakan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Emirsyah Satar kepada Investor Daily di kantor Garuda, Cengkareng, Tangerang, Banten, Senin (15/9).

Berdasarkan data, fasilitas bandara yang tidak memadai juga sering menyebabkan keterlambatan penerbangan. Masalah fasilitas bandara berkontribusi terbesar, yakni 6,02 persen, terhadap keterlambatan (delay) penerbangan Garuda selama Januari-Agustus 2014. Hal ini termasuk faktor yang di luar kontrol Garuda, selain cuaca (0,9 persen), dan lain-lain (0,11 persen). Sedangkan faktor yang dalam kendali Garuda adalah gangguan teknik (1,33 persen), operasi penerbangan (0,68 persen), komunikasi (0,53 persen), penanganan di terminal (0,39 persen), dan sistem (0,16 persen).

“Kami sebenarnya selalu berupaya menurunkan delay Garuda. Pada Maret-Agustus lalu, on time performance (OTP) penerbangan kami sudah berkisar 89,35-92,73 persen, di atas target sekitar 85 persen,” paparnya.

Penerbangan nasional juga dihambat permasalahan mahalnya harga avtur dibanding di negara lain, seperti Singapura dan Malaysia. Padahal, harga avtur pesawat sudah melambung akibat depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang mencapai 23 persen. Di Medan dan Mamuju, Papua, harga avtur masing-masing bisa mencapai US$ 91,9 per liter dan US$ 100,19 per liter.

Pemerintah juga masih mengenakan bea masuk suku cadang (spare part) pesawat, padahal di negara lain seperti di Malaysia dan Singapura, bea masuk ditetapkan 0 persen. Sebenarnya pemerintah sudah membantu bea masuk suku cadang ini dengan memberikan subsidi. Namun, langkah itu tak efektif karena subisidi baru bisa dicairkan pada akhir tahun.

Permasalahan lain adalah masih diberlakukannya batas tarif atas tiket pesawat. Menurut VP Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, seharusnya untuk rute yang sudah dilayani tiga maskapai, batas tarif atas dihapus. Rute ini misalnya Jakarta-Surabaya, Jakarta-Denpasar, dan Jakarta-Yogyakarta.

Tumbuh Pesat
Lebih jauh Emirsyah menjelaskan, industri penerbangan Indonesia tengah tumbuh pesat. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya jumlah penumpang pesawat dari 65 juta orang pada 2006 menjadi lebih dari 100 juta orang tahun ini. Tahun lalu, Garuda Indonesia menerbangkan 25 juta penumpang, sedangkan tahun ini diharapkan dapat meningkat 6-8 persen dibandingkan tahun 2013.

“Pertumbuhan industri penerbangan itu bisa 1,5-2 kali pertumbuhan ekonomi. Jadi, jika pertumbuhan ekonomi kita 6 persen, industri ini bisa tumbuh 9-12 persen. Tapi sayangnya, maskapai kita sepertinya kurang merasakan manfaat yang optimal,” katanya.

Untuk memperbaiki kinerja Garuda, lanjutnya, perseroan memiliki 12 strategi yang diterapkan manajemen dalam menyiasati kondisi penerbangan yang kurang kondusif. Strategi itu, di antaranya memperkuat rute domestik dan internasional, menutup dan mengurangi rute yang merugi, menunda rencana ekspansi internasional, dan memperkuat aliansi Sky Team.

Langkah lain adalah menyesuaikan kapasitas pesawat dengan pasar dengan mempertahankan pesawat berbadan besar (wide body), mempercepat phase out pesawat tua, dan menerapkan strategi pemasaran yang agresif. Saat ini Grup Garuda memiliki 149 pesawat, yang terdiri atas 120 armada yang digunakan oleh Garuda dan sisanya oleh anak usaha, Citilink Indonesia, sebanyak 29 pesawat.

“Hingga tahun 2030, saat Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan ekonomi ketujuh terbesar di dunia, pesawat yang dibutuhkan Garuda setidaknya total mendekati 300 unit,” kata Emirsyah.

Sumber : beritasatu.com