PT Bestprofit Medan

Mansa Musa, Orang Terkaya dalam Sejarah yang Mencari Penebusan Dosa

Mansa Musa digambarkan dalam Atlas Catalan 1375, salah satu peta dunia terpenting pada abad pertengahan di Eropa. (Foto: Wikimedia Commons)

PT BESTPROFIT FUTURES MEDAN

Bestprofit – Saat ini, jika kita berpikir mengenai orang terkaya di dunia, yang muncul dalam pikiran kita umumnya adalah Bill Gates, Jeff Bezos, Warren Buffet, Mark Zuckerberg atau seorang pangeran dari negara Arab. Tetapi orang terkaya yang pernah tercatat dalam sejarah ternyata adalah seorang penguasa Afrika bernama Musa Keita I.

Musa adalah seorang Mansa, gelar seperti sultan atau kaisar, Kerajaan Mali di abad ke-14. Lahir pada 1280, Mansa Musa memperluas wilayah kerajaannya dengan menaklukkan 24 kota dan wilayah sekitarnya.

Saat dia meninggal dunia, jumlah kekayaan Mansa Musa diperkirakan mencapai lebih dari USD400 miliar atau sekira Rp5.339 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dari harta kekayaan seluruh anggota keluarga Rothschild yang diperkirakan ‘hanya’ mencapai USD350 miliar, Muammar Gaddafi dengan USD200 miliar dan Bill Gates yang memiliki USD168 miliar.

Namun, jumlah itu hanyalah perkiraan karena tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah harta Mansa Musa yang sebenarnya. Jacob Davidson dari majalah Time menulis: “benar-benar tidak ada cara untuk memberi angka akurat pada kekayaannya.”

Mansa Musa mendapatkan kekayaannya dari tambang emas dan garam di wilayah Afrika Barat. Di bawah kepemimpinan Musa, Kerajaan Mali didirikan dari sisa-sisa Kekaisaran Ghana mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah yang membentang seluas 2.000 mil di sepanjang Afrika Barat, dari Samudera Atlantik ke Timbuktu, termasuk bagian dari Chad, Pantai Gading, Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Mauritania, Niger, Nigeria, dan Senegal.

Selain menggabungkan banyak kota, terutama Timbuktu dan Gao, di bawah pemerintahannya, Mansa Musa juga mengumpulkan upeti dari banyak wilayah lainnya. Di saat Eropa berjuang untuk bertahan dari kelaparan, wabah, dan perang kaum aristokrat, kerajaan-kerajaan Afrika justru berkembang pesat.

Dalam adat Bangsa Mali, seorang raja harus menunjuk seorang wakil setiap kali dia melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah atau jika dia melakukan perjalanan panjang lain. Jika raja tidak kembali, wakilnya yang ditunjuk akan mengambil alih takhta.

Hal itu terjadi pada pendahulu Musa, Mansa Abubakari Keita II yang  memulai pencarian untuk menemukan ujung Samudra Atlantik dan tidak pernah terdengar lagi. Sebelum mengambil alih takhta di tahun 1312, Musa I mengirimkan 2.000 kapal untuk mencari Abubakari Keita II. Ketika tidak ada yang kembali, semua orang sepakat bahwa Musa I adalah Mansa Mali yang sah.

Dalam adat Bangsa Mali, seorang raja harus menunjuk seorang wakil setiap kali dia melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah atau jika dia melakukan perjalanan panjang lain. Jika raja tidak kembali, wakilnya yang ditunjuk akan mengambil alih takhta.

Hal itu terjadi pada pendahulu Musa, Mansa Abubakari Keita II yang  memulai pencarian untuk menemukan ujung Samudra Atlantik dan tidak pernah terdengar lagi. Sebelum mengambil alih takhta di tahun 1312, Musa I mengirimkan 2.000 kapal untuk mencari Abubakari Keita II. Ketika tidak ada yang kembali, semua orang sepakat bahwa Musa I adalah Mansa Mali yang sah.

Kekayaan Mansa Musa I hanyalah satu bagian dari warisannya. Dengan mengendalikan rute perdagangan penting antara pantai Mediterania dan Afrika Barat, Mansa Musa menjadikan Timbuktu sebagai pusat kebudayaan dan pembelajaran Islam.

Dia membayar arsitek Andalusía dengan 200 kg emas untuk membangun Masjid Djinguereber, yang masih berdiri sampai hari ini. Mansa Musa juga mendirikan Universitas Timbuktu untuk menarik para ilmuwan dan seniman dari seluruh dunia Islam. Di dalam Kekaisarannya, Mansa Musa I mendorong urbanisasi dengan mendanai sekolah dan masjid.

Mansa Musa Saya pertama kali menarik perhatian dunia pada tahun 1324 saat dia melakukan ibadah haji ke Makkah. Dalam bukunya “Kisah sang Pencari” pelajar Muslim Afrika, Mahmud Kati menuliskan mengenai peristiwa yang mendorong Musa I untuk berhaji.

Kati menulis bahwa Mansa Musa merasa bersalah karena telah menewaskan ibunya, Nana Kankan, secara tidak sengaja. Musa merasakan penyesalan yang mendalam, bertobat dan takut akan pembalasan yang akan diterimanya di hari akhir.

Untuk menebus kesalahan itu, Musa memberikan sumbangan dalam jumlah sangat besar dan memperkuat niatnya untuk berpuasa seumur hidup. Dia juga bertanya kepada ulama terkemuka di masanya, mengenai apa yang bisa dia lakukan untuk menebus dosa besarnya tersebut. Ulama itu menjelaskan bahwa Musa harus meminta pengampunan pada Nabi Allah dan meminta perlindungannya.

“Anda harus mencari perlindungan dengan Nabi Allah, semoga Tuhan memberkati dan menyelamatkannya. Pergilah kepadanya, letakkan dirimu di bawah perlindungannya, dan mintalah dia untuk bersyafaat untukmu dengan Tuhan, dan Tuhan akan menerima syafaatnya,” demikian ditulis Kati dalam bukunya sebagaimana dikutip dari Ancient Origin, Selasa (15/8/2017).

Maka pergilah Mansa Musa I menempuh perjalanan sejauh 4.000 mil ke Makkah bersama dengan iring-iringan yang menunjukkan kekayaannya yang luar biasa. Para sejarawan menceritakan iring-iringan Mansa Musa terdiri dari puluhan ribu prajurit, warga sipil dan budak dengan karavan yang memanjang sejauh mata memandang.

Bersama Musa juga turut ikut istrinya, Inari Konte, 500 pelayan perempuan Istrinya, 500 pembawa berita berpakaian sutra dan bertongkat emas serta kuda dan unta yang membawa emas batangan.

Dia membangun masjid di sepanjang perjalanannya termasuk masjid di Dukurey, Gundam, Direy, Wanko, dan Bako yang sebagian besar masih berdiri sampai sekarang. Diceritakan, ketika dia sampai di Alexandria, Mesir, Mansa Musa menghabiskan begitu banyak uang, memberikan emas pada rakyat miskin, membeli makanan untuk pengikutnya dan membeli suvenir untuk dibawa pulang ke rumah.

Saking banyaknya uang yang dihabiskan di sana, Musa menyebabkan inflasi hebat di Alexandria yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan. Penguasa Mali itu membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk menyelesaikan perjalanannya dan kembali ke Mali.

Akhir hidup Mansa Musa I menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah dan pelajar Arab yang mencatat sejarah Mali. Beberapa catatan menyebutkan Mansa Musa I berkuasa selama 25 tahun sampai dia meninggal pada 1332, sementara catatan lain menyatakan sang sultan berniat turun tahta dan menyerahkan sepimpinan Mali kepada putranya Maghan, tetapi dia meninggal tidak lama setelah kembali dari ibadah haji di Makkah pada 1325.

Sedangkan, menurut kesaksian dari sejarawan Arab, Ibnu Khaldun, Mansa Musa masih hidup saat Kota Tlemcen di Aljazair ditaklukkan pada 1337. Ibnu Khaldun mengatakan, Mansa Musa mengirimkan utusan ke Aljazair untuk memberi selamat atas kemenangan yang diraih para penakluk kota.

Bestprofit     PT Bestprofit     Best Profit