PT Bestprofit Medan

Ini Perbedaan antara Kasus Serangan Jantung dan Kasus Henti Jantung

Ini Perbedaan antara Kasus Serangan Jantung dan Kasus Henti Jantung

PT BESTPROFIT FUTURES MEDAN

Jakarta – Pernah mendengar kasus henti jantung mendadak? Meski sama-sama menyerang organ jantung, kasus “henti jantung” memiliki karakteristik yang berbeda dengan “serangan jantung.”

Tim konten Kompasiana yang diwakili oleh Luthfia Rizki berkesempatan hadir dalam acara diskusi beserta penyuluhan soal bahaya dan penanganan Kasus Henti Jantung.

Dalam diskusi yang diselenggarakan bersama Philips Indonesia ini, Kardiolog Dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC menyampaikan bahwa serangan jantung diakibatkan oleh adanya penyempitan pembuluh darah koroner sehingga terjadi mati jaringan. Salah satu gejalanya adalah dada terasa sesak.

“Pada serangan jantung, jika nadi terasa melemah, maka detak jantung bisa dirangsang kembali dengan menyuruh korban untuk batuk,” ujar Dr. Jetty.

Namun ia menambahkan, jika kondisi nadi berdetak cepat, cara batuk ini tidak dianjurkan. Korban serangan jantung harus segera dilarikan ke rumah sakit dalam enam jam setelah serangan jantung terjadi.

“Tetapi lain halnya dengan kasus henti jantung mendadak atau henti jantung napas. Korban akan hilang kesadaran, nadi tidak terdeteksi, dan tidak ada napas,” lanjutnya.

Jakarta – Pernah mendengar kasus henti jantung mendadak? Meski sama-sama menyerang organ jantung, kasus “henti jantung” memiliki karakteristik yang berbeda dengan “serangan jantung.”

Tim konten Kompasiana yang diwakili oleh Luthfia Rizki berkesempatan hadir dalam acara diskusi beserta penyuluhan soal bahaya dan penanganan Kasus Henti Jantung.

Dalam diskusi yang diselenggarakan bersama Philips Indonesia ini, Kardiolog Dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC menyampaikan bahwa serangan jantung diakibatkan oleh adanya penyempitan pembuluh darah koroner sehingga terjadi mati jaringan. Salah satu gejalanya adalah dada terasa sesak.

“Pada serangan jantung, jika nadi terasa melemah, maka detak jantung bisa dirangsang kembali dengan menyuruh korban untuk batuk,” ujar Dr. Jetty.

Namun ia menambahkan, jika kondisi nadi berdetak cepat, cara batuk ini tidak dianjurkan. Korban serangan jantung harus segera dilarikan ke rumah sakit dalam enam jam setelah serangan jantung terjadi.

“Tetapi lain halnya dengan kasus henti jantung mendadak atau henti jantung napas. Korban akan hilang kesadaran, nadi tidak terdeteksi, dan tidak ada napas,” lanjutnya.

Untuk menyelamatkan korban kasus henti jantung ini, kuncinya adalah kecepatan pemberian pertolongan pertama. Setidaknya dalam masa nol sampai empat menit pertama korban harus diberi pertolongan pertama.

Dalam masa emas empat menit pertama inilah bisa dilakukan teknik CPR pada korban henti jantung untuk merangsang kembali denyut jantung dan mencegah timbulnya kerusakan pada otak. Korban diberikan pertolongan pertama dengan CPR sebelum diberikan pertolongan medis lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Untuk melakukan teknik CPR, diperlukan sebuah pelatihan khusus dari ahlinya. Karena teknik CPR yang sempurna bisa meningkatkan kesempatan hidup pada korban henti jantung mendadak.

Tahapan yang harus diterapkan untuk melakukan CPR dalam kondisi gawat darurat adalah Danger, Response, Compression, Airway, dan Breathing.

1. Danger (Perhatikan kondisi sekitar)

Sebelum menolong korban, sebaiknya kita melihat kondisi lingkungan sekitar terlebih dahulu. Kita harus memastikan bahwa kondisi sekitar aman untuk kita sebagai penolong, orang lain, dan juga sang korban. Contoh lingkungan berbahaya adalah pohon tumbang, bencana longsor, dan lain-lain.

Karena jika dalam kondisi membahayakan namun penolong memaksakan diri untuk menolong korban, nantinya sang penolong sendiri akan menjadi korban selanjutnya. Korban yang akan timbul berikutnya malah semakin banyak.

2. Response (Cek respon)

Setelah memastikan lingkungan sekitar aman dan tidak berbahaya, cek respon atau kesadaran korban. Cara ini bisa dilakukan bertahap, yakni mengecek apakah korban tersebut masih sadar, kemudian merespon penggilan suara, merespon dengan pemberian rasa sakit dengan ditepuk anggota tubuhnya, atau sudah tidak sadar/bernapas sama sekali.

Jika terjadi penurunan kesadaran pada korban, segera minta bantuan dengan meminta kotak P3K dan alat Automated External Defibrillators (AED). Pengecekan napas bisa dengan melihat pergerakan dada selama 5-10 detik.

Jika korban tidak bernapas sama sekali, segera lakukan teknik CPR sebagai pertolongan pertama.

3. Compression (kompresi dada)

Untuk korban yang mengalami kasus henti jantung maka bisa langsung diberikan Resusitasi Jantung Paru atau Cardio-Pulomonary Resuscitation (CPR). Kompresi dada bisa memicu sirkulasi darah untuk membawa oksigen ke otak.

Untuk melakukan CPR, pertama korban harus diletakkan dalam posisi terlentang pada permukaan yang rata dan keras.

Jakarta – Pernah mendengar kasus henti jantung mendadak? Meski sama-sama menyerang organ jantung, kasus “henti jantung” memiliki karakteristik yang berbeda dengan “serangan jantung.”

Tim konten Kompasiana yang diwakili oleh Luthfia Rizki berkesempatan hadir dalam acara diskusi beserta penyuluhan soal bahaya dan penanganan Kasus Henti Jantung.

Dalam diskusi yang diselenggarakan bersama Philips Indonesia ini, Kardiolog Dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC menyampaikan bahwa serangan jantung diakibatkan oleh adanya penyempitan pembuluh darah koroner sehingga terjadi mati jaringan. Salah satu gejalanya adalah dada terasa sesak.

“Pada serangan jantung, jika nadi terasa melemah, maka detak jantung bisa dirangsang kembali dengan menyuruh korban untuk batuk,” ujar Dr. Jetty.

Namun ia menambahkan, jika kondisi nadi berdetak cepat, cara batuk ini tidak dianjurkan. Korban serangan jantung harus segera dilarikan ke rumah sakit dalam enam jam setelah serangan jantung terjadi.

“Tetapi lain halnya dengan kasus henti jantung mendadak atau henti jantung napas. Korban akan hilang kesadaran, nadi tidak terdeteksi, dan tidak ada napas,” lanjutnya.

Untuk menyelamatkan korban kasus henti jantung ini, kuncinya adalah kecepatan pemberian pertolongan pertama. Setidaknya dalam masa nol sampai empat menit pertama korban harus diberi pertolongan pertama.

Dalam masa emas empat menit pertama inilah bisa dilakukan teknik CPR pada korban henti jantung untuk merangsang kembali denyut jantung dan mencegah timbulnya kerusakan pada otak. Korban diberikan pertolongan pertama dengan CPR sebelum diberikan pertolongan medis lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Untuk melakukan teknik CPR, diperlukan sebuah pelatihan khusus dari ahlinya. Karena teknik CPR yang sempurna bisa meningkatkan kesempatan hidup pada korban henti jantung mendadak.

Tahapan yang harus diterapkan untuk melakukan CPR dalam kondisi gawat darurat adalah Danger, Response, Compression, Airway, dan Breathing.

1. Danger (Perhatikan kondisi sekitar)

Sebelum menolong korban, sebaiknya kita melihat kondisi lingkungan sekitar terlebih dahulu. Kita harus memastikan bahwa kondisi sekitar aman untuk kita sebagai penolong, orang lain, dan juga sang korban. Contoh lingkungan berbahaya adalah pohon tumbang, bencana longsor, dan lain-lain.

Karena jika dalam kondisi membahayakan namun penolong memaksakan diri untuk menolong korban, nantinya sang penolong sendiri akan menjadi korban selanjutnya. Korban yang akan timbul berikutnya malah semakin banyak.

2. Response (Cek respon)

Setelah memastikan lingkungan sekitar aman dan tidak berbahaya, cek respon atau kesadaran korban. Cara ini bisa dilakukan bertahap, yakni mengecek apakah korban tersebut masih sadar, kemudian merespon penggilan suara, merespon dengan pemberian rasa sakit dengan ditepuk anggota tubuhnya, atau sudah tidak sadar/bernapas sama sekali.

Jika terjadi penurunan kesadaran pada korban, segera minta bantuan dengan meminta kotak P3K dan alat Automated External Defibrillators (AED). Pengecekan napas bisa dengan melihat pergerakan dada selama 5-10 detik.

Jika korban tidak bernapas sama sekali, segera lakukan teknik CPR sebagai pertolongan pertama.

3. Compression (kompresi dada)

Untuk korban yang mengalami kasus henti jantung maka bisa langsung diberikan Resusitasi Jantung Paru atau Cardio-Pulomonary Resuscitation (CPR). Kompresi dada bisa memicu sirkulasi darah untuk membawa oksigen ke otak.

Untuk melakukan CPR, pertama korban harus diletakkan dalam posisi terlentang pada permukaan yang rata dan keras.

Kemudian diawali dengan melakukan kompresi/penekanan dada selama 30 kali sedalam 5-6 cm. Kompresi dada dilakukan dengan meletakkan tumit tangan pada pertengahan dada (tengah bagian bawah tulang sternum).

4. Airway (Jalan Napas)

Setelah memberikan 30 kali kompresi dada, buka jalan napas dengan menengadahkan dahi sang korban, kemudian meletakkan ujung jari di bawah dagu dan selanjutnya mengangkat dagu sang korban. Metode ini bisa disebut juga dengan Head Tilt-Chin Lift. Ini dilakukan agar jalan napas terbuka.

5. Breathing (Beri bantuan napas)

Langkah terakhir dalam teknik CPR adalah memberikan bantuan napas setelah jalan napas terbuka. Bantuan napas diberikan sebanyak dua kali, setiap tiupan napas dilakukan selama 1 detik.

Dalam memberikan bantuan napas ini, lakukan dalam posisi dahi dan dagu korban yang menengadah seperti teknik Airway sebelumnya. Tutup hidung korban kemudian tiup mulut korban. Setiap tiupan napas ini harus diberikan sampai dada terlihat terangkat.

Jadi, teknik CPR ini idealnya harus dilakukan selama 5 siklus atau 2 menit. Setiap siklus dilakukan kompresi dada sebanyak 30 kali bersama dengan bantuan napas 2 kali.

Teknik CPR harus terus dilakukan sampai ada orang yang memberikan alat AED. AED merupakan perangkat sengatan listrik portabel melalui dada ke jantung. AED ini berfungsi untuk mengembalikan ritme jantung.

Jika dalam pertengahan CPR sang korban dilihat sudah sadar atau bernapas, teknik CPR ini bisa segera dihentikan. Namun jika korban belum sadar, CPR harus terus dilanjutkan sampai ambulans tiba menjemput korban untuk dibawa ke rumah sakit.

Bestprofit     PT Bestprofit     Best Profit     PT Best Profit