PT Bestprofit Medan

Demi Sekolah, Duta Tabung Koin Rp 1.000 di Kaleng Kue Sejak Kelas 6 SD

PT BESTPROFIT FUTURES MEDAN

Bestprofit MAGELANG, KOMPAS.com – Kisah Eka Duta Prasetya (16) ini membuat haru warganet sejak viral di media sosial (medsos), Selasa (20/6/2017).

Betapa tidak, Duta membayar biaya sekolah sebanyak Rp 1 juta dalam bentuk uang receh pecahan Rp 1.000 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Magelang.

Kepada Kompas.com, Duta mengaku, sengaja mengumpulkan uang tersebut untuk biaya melanjutkan sekolah setelah lulus MTs Kota Magelang. Ia mulai menabung sejak duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD) atau sekitar empat tahun lalu.

Remaja asal Desa Ngadirejo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang itu rela tak jajan atau bermain seperti teman-temannya demi bisa menabung. Setiap hari, Duta menyisihkan uang sakunya rata-rata Rp 5.000-Rp 7.000 untuk dimasukkan di toples kaleng bekas kue.

“Saya ngga pernah jajan. Uang saku diberi Ayah sehari antara Rp 10.000-Rp 12.000,” kata Duta, Rabu (21/6/2107) sore.

Untuk lebih menghemat ongkos, Duta bersepeda ke MTs Kota Magelang yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari rumahnya. Sepeda butut kenangan dari almarhum kakeknya itu menjadi saksi bisu perjuangan Duta menggapai cita-citanya.

Sepeda itu pula yang mengantarkan Duta saat mendaftarkan diri ke MAN 1 Kota Magelang, Selasa (20/6/2017). Dia menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer sembari menenteng tas merah berisi ratusan keping uang receh.

Duta mengaku, sebelum dibayarkan ke sekolah, uang recehnya itu sempat hendak ditukarkan dengan uang kertas kepada tetangga tetapi tidak ada.

Putra pasangan Agung Prasojo (47) dan Tutik (37) itu pun nekat ke MAN 1 Kota Magelang membawa uang receh itu. “Alhamdulillah, saya diterima di sekolah ini. Awalnya saya takut kalau tidak diterima uang saya ini,” ucap remaja kelahiran Magelang, 1 Juni 2001 ini.

Lebih lanjut Duta mengungkapkan, selama menabung, ia tidak pernah berniat membuka kaleng-kaleng kue berisi uang itu untuk kepentingan pribadinya. Duta hanya akan mengambil uang itu, jika neneknya, Sutiyah (56), membutuhkan obat karena komplikasi penyakit.

Bestprofit “Biasanya beli keperluan sekolah atau kebutuhan mendesak nenek saya yang harus berobat. Kadang juga buat bayar tagihan air dan lainnya,” ucapnya.

Selama empat tahun menabung, Duta berhasil menggumpulkan uang receh sampai Rp 7 juta yang diletakkan di kaleng-kales bekas kue. Sedianya, uang tabunganya itu hendak digunakan membeli komputer atau laptop.

“Di rumah masih ada dua kaleng, belum saya buka, jadi belum tahu jumlahnya berapa,” tukas Duta yang bercita-cita ingin jadi ahli komputer itu.

Selama ini, Duta tinggal bersama ayah dan nenek di rumah kontrakan. Rumahnya itu harus dikosongkan karena hendak dijual oleh pemilik kos. Entah kemana lagi keluarga Duta akan tinggal jika rumah tersebut jadi dijual.

Kendati dalam kondisi yang kurang beruntung, masih tersisa tekad kuat pada diri Duta untuk menuntut ilmu. Kekuatan tersebut diajarkan ayahnya yang bekerja sebagai petugas parkir di RST dr Soedjono Kota Magelang.

Ayahnya selalu berpesan, kemiskinan bukan alasan untuk tidak sekolah. “Ayah bilang, sekolah harus diutamakan. Cari sekolah yang juga mengajarkan agama. Ayah juga pesan jangan bekerja dulu sebelum menyelesaikan sekolah. Rezeki bisa dicari lagi,” paparnya.

Keteguhan Duta juga diajarkan oleh sang Nenek. Duta mengaku selalu menjalankan ibadah puasa sunah, Senin dan Kamis.

“Lebih baik buat melanjutkan sekolah dulu, kalau rezeki bisa dicari. Mencari uang gampang tapi mencari pendidikan itu susah,” tandasnya.

Sutiyah, Nenek Duta mengaku, sejak kecil Duta memang sudah diajari untuk prihatin. Disaat teman sebayanya sembunyi-sembunyi merokok, Duta diingatkan untuk tidak ikut merokok. Selain memang alasan ekonomi, saat kecil Duta terjangkit penyakit paru-paru.

“Bersyukur, penyakitnya kini sudah membaik,” ucap Sutiyah.

Sutiyah paham betul kondisi cucunya itu. Dia pun kerap memasak untuk bekal sekolah Duta. Tidak hanya fokus berusaha, Duta juga diajari untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa.

“Tanpa saya ketahui, Duta tiba-tiba juga pernah diumumkan menjadi juara azan di sekitar perumahan,” jelas Sutiyah.

Sampai saat ini, Sutiyah masih teringat betul perjuangan Duta ketika pulang sekolah dalam kondisi hujan. Seragam sekolahnya basah kuyup, padahal harus digunakan keesokan harinya.

Duta pun langsung berupaya mengeringkan bajunya. Jika belum kering, seragamnya digosok dulu sebelum dipakai esok hari.

“Ketika musim hujan, tiap pulang sekolah kehujanan, kasihan saya melihatnya. Pernah saya sampaikan, ini merupakan hasil dari usahamu (ketika setelah pengumuman kelulusan),” tutupnya.

Bestprofit