PT Bestprofit Medan

Cara Menanamkan Rasa Percaya Diri pada Anak yang Punya Keterbatasan

PT Bestprofit Futures Medan

PT Bestprofit Futures Medan

– Jakarta, Bukan hal yang mudah bagi anak-anak untuk menerima kekurangannya, sebut saja kondisi fisik yang tidak sempurna. Meski begitu, orang tua tetap bisa berupaya menumbuhkan kepercayaan diri anak supaya mereka tidak jadi sosok yang minder saat bergaul di masyarakat.

Seperti penuturan psikolog anak dari TigaGenerasi, Saskhya Aulia Prima, MPsi, Psikolog, pada anak normal atau dengan keterbatasan, orang tua bisa membangun kepercayaan diri anak dengan mengedepankan sisi positif anak. Hal-hal sepele seperti bisa minum sendiri bahkan hanya berani berdiri di depan umum, sudah bisa jadi sumber kepercayaan diri bagi anak.

“Saat anak melakukan hal itu, katakan bahwa dia hebat, beri dia apresiasi. Kunci agar anak tidak minder saat bergaul adalah orang tua selalu memberi tahu ke anak bagaimanapun kondisi dia, di luar sana anak tetap hebat. Gali potensi yang ada pada diri anak sehingga bisa membuktikan bahwa dia pun bisa berprestasi dan tampil di masyarakat,” tutur Saskhya.

Dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini, Saskhya tak menampik meski rasa percaya diri anak sudah timbul, pasti ada rasa tidak percaya diri ketika anak jadi bahan omongan teman lainnya. Atau, ketika kondisi anak dipertanyakan oleh temannya yang lain.

Jika seperti itu, Saskhya menyarankan agar orang tua mengatakan memang si anak memiliki kondisi yang berbeda dengan teman lainnya. Cukup katakan seperti itu pada anak dan tak perlu dibahas lebih panjang lagi. Setelah itu, jika anak masih sedih, ajak ia ngobrol dan tanyakan apa yang membuat anak sedih.

“Misalnya anak harus pakai kantong kolostomi, katakan pada anak ‘nanti kalau nggak pakai kantong ini adik malah nggak bisa buang air besar dan kecil. Nggak apa-apa adik pakai ini, kan adik tetap bisa makan’. Pokoknya tonjolkan kelebihan si anak,” tambah Saskhya.

Dalam membentuk kepercayaan diri anak dengan keterbatasan juga diperlukan peran sekolah. Terutama jika anak disekolahkan di sekolah inklusi, maka penting orang tua bekerja sama dengan pihak sekolah, terutama guru untuk memberi pengertian ke siswa lain soal kondisi si anak. Sehingga, siswa lain bisa menerima kondisi si anak dan memiliki empati terhadap temannya yang ‘spesial’ itu.

“Kadang anak kan cuma pengen tahu ya. Jadi kalau ditanya temannya soal kantong kolostominya misalkan, cukup ajari anak jawab ini kantong yang memang harus dia pakai. Dengan adanya kerja sama orang tua dan guru, anak-anak itu bisa saling toleransi, berempati, dan bergaul kok,” pungkas Saskhya. PT Bestprofit Futures Medan

Sumber oleh : detik.helath.com