Imbal Hasil Obligasi AS Bikin Investor Khawatir

PT BESTPROFIT FUTURES MEDAN
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
PT BESTPROFIT FUTURES MEDAN
BESTPROFIT – Pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury dengan tenor 10 tahun membuat khawatir para investor surat berharga negara (SBN) Indonesia.

Yield US Treasury 10 tahun kini menurun ke level 1,542% dari yang sebelumnya berada di level 1,6% atau lebih. PT. BPF MEDAN

Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Deni Ridwan mengatakan kondisi SBN tanah air masih cukup menarik. Hanya saja, banyak investor yang khawatir terkait dengan penurunan imbal hasil obligasi AS. BESTPRO

“Yield SBN kita sebenarnya masih menarik, tapi karena kekhawatiran investor adanya peningkatan inflasi di AS ini yang membuat asing sell off dan dorong penurunan kepemilikan asing,” kata Deni dalam webinar InfobankTalkNews ‘Peran Investor Institusi Lokal dalam Rangka Pendalaman Pasar Finansial Instrumen Saham dan SBN, Rabu (10/3/2021). PT. BPF

Deni menyebut, imbal hasil SBN tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi di 6,7% dan saat ini sudah berada di kisaran 6,6%. Kekhawatiran investor karena imbal hasil obligasi AS ini tidak hanya terjadi di Tanah Air melainkan negara berkembang lainnya. PT BESTPRO

“Tidak hanya di Indonesia, tapi di emerging market lain,” katanya. Lebih lanjut Deni mengungkapkan, penurunan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun pun berhasil menekan sejak awal tahun 2021. BEST PROFIT FUTURES

“Yield pasar domestik alami tekanan, yield SBN naik, pelemahan rupiah, dan penurunan kepemilikan asing,” ungkapnya. PT BEST PROFIT FUTURES