PT Bestprofit Medan

Lebih Dekat Mengenal Parkinson, Penyakit yang Diidap Petinju Muhammad Ali

PT Bestprofit Futures Medan

PT Bestprofit Futures Medan

– Jakarta, Legenda tinju dunia, Muhammad Ali meninggal pada usia 74 tahun. Selama lebih dari 30 tahun Ali hidup dengan penyakit kemunduran sel saraf pada otak atau yang dikenal dengan Parkinson.

Parkinson terjadi saat sel saraf pada otak perlahan mengalami kemunduran fungsi dan dampaknya menyerang setiap bagian otak, termasuk substantia nigra atau otak bagian tengah yang mengatur fungsi kontrol otot dan keseimbangan.

Pada tahun 1981 setelah mengundurkan diri dari dunia tinju, kesehatan Ali jadi sorotan. Sebab setiap menyampaikan pidato, Ali sering berjalan dengan menyeret kaki dan sering mengantuk. Siapa sangka, apa yang dialami Ali merupakan gejala dari penyakitnya. Seperti diketahui, gejala Parkinson awalnya ringan namun terus berkembang menjadi buruk.

Dilaporkan BBC, di akhir hayatnya, tubuh Ali diketahui terlihat gemetar dan semakin lemah. Ia meninggal setelah mengalami komplikasi infeksi paru-paru. Penyebab pasti parkinson sampai saat ini belum diketahui. Tapi, kombinasi faktor genetik dan lingkungan disebut bisa jadi penyebabnya.

Dalam kasus Ali, pekerjaannya mungkin sangat berpengaruh. Meskipun sering menang dalam pertandingan, di atas ring Ali kerap mendapatkan pukulan di kepalanya. Menurut beberapa ahli kesehatan ada kondisi yang disebut ‘Pugilistic Parkinson’ atau pukulan yang menyebabkan trauma pada otak dan dapat memicu Parkinson. Tapi pada kasus Ali, kondisi itu belum tentu benar dialaminya.

Ada pula kondisi yang disebut punch drunk syndrome atau dikenal juga dengan demensia pugilistica yang merupakan kerusakan pada saraf yang menyebabkan trauma otak dan gegar otak. Saat ini kondisi itu juga disebut trauma kronis ensefalopati yang faktanya bukan merupakan penyakit yang membatasi untuk bermain tinju.

Diagnosis parkinson biasanya ditegakkan melalui scan otak dan pemeriksaan penunjang lainnya. Walaupun tidak ada pengobatan untuk penyakit ini, tersedia perawatan bisa dilakukan untuk mengurangi gejala dan membantu pasien menjaga kualitas hidupnya. Misalnya, tatalaksana meredakan otot yang kaku dan membantu pasien berjalan.

Obat seperti Levodopa atau asam amino yang menjadi dopamin dalam tubuh dapat membantu meredakan gejala parkinson. Tapi, pastinya bisa timbul efek samping untuk pemakaian dalam jangka panjang, salah satunya tidak dapat mengontrol gerak langkah.

Berangkat dari apa yang ia alami, semasa hidupnya mendiang Ali mendirikan pusat penelitian parkinson yang menggunakan namanya. Dr Holly Shill, direktur dari Muhammad Ali Parkinson Center, mengapresiasi apa yang dilakukan Ali.

“Aku sudah melihat wajah sakitnya yang penuh rahmat dan leluconnya menginspirasi banyak pasien untuk melakukan hal yang sama. Kami sudah kehilangan pejuang yang hebat dalam pertarungan melawan Parkinson. Tapi harapan terus berlanjut untuk esok yang lebih baik,” kata Shill. PT Bestprofit Futures Medan

Sumber oleh : health.detik.com