PT Bestprofit Medan

Studi: Media Sosial Bisa Jadi Alat Bantu Temukan Pasien HIV Baru

PT Bestprofit Futures Medan

PT Bestprofit Futures Medan

– Jakarta, Tingginya stigma terhadap pengidap Human Immunodeficiency Virus – Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) membuat populasi berisiko masih enggan melakukan pemeriksaan HIV-AIDS. Berdasarkan studi terbaru, media sosial bisa jadi solusinya.

Studi yang dilakukan Dr Emilie Elliot dari Chelsea and Westminster Hospital, London, menemukan bahwa masih banyak tes HIV yang membuat populasi berisiko merasa kurang nyaman, memakan waktu lama hingga tidak adanya anonimitas. Hal ini membuat program penanganan HIV-AIDS menjadi terhambat.

“Kunci dari pencegahan dan kontrol HIV adalah melakukan tes sedini mungkin. Namun beberapa halangan membuat populasi berisiko tidak melakukannya dan menyebabkan banyak pengidap HIV-AIDS yang tidak mengetahui status penyakit dan tidak mendapat pengobatan,” tutur Dr Elliot, dikutip dari Reuters, Selasa (31/5/2016).

Studi yang dilakukan Dr Emilie Elliot dari Chelsea and Westminster Hospital, London, menemukan bahwa masih banyak tes HIV yang membuat populasi berisiko merasa kurang nyaman, memakan waktu lama hingga tidak adanya anonimitas. Hal ini membuat program penanganan HIV-AIDS menjadi terhambat.

“Kunci dari pencegahan dan kontrol HIV adalah melakukan tes sedini mungkin. Namun beberapa halangan membuat populasi berisiko tidak melakukannya dan menyebabkan banyak pengidap HIV-AIDS yang tidak mengetahui status penyakit dan tidak mendapat pengobatan,” tutur Dr Elliot, dikutip dari Reuters, Selasa (31/5/2016).

Penelitian dilakukan dengan menyebarkan iklan di media sosial seperti Facebook, Grindr, Recon dan Gaydar pada tahun 2011. Proyek penelitian yang bernama Dean Street at Home (DS@H) ini membuat pengguna media sosial tersebut dapat memesan paket tes HIV di rumah secara gratis.

Setelah 2 tahun, ditemukan bahwa 10.323 pria gay memesan paket tes yang berisi botol untuk sampel air liur atau darah dari ujung jari. 5.696 Partisipan mengirim kembali sampel air liur dan darah untuk dites HIV-AIDS.

Dari sampel tersebut, ditemukan 121 orang terinfeksi HIV, dengan 82 di antaranya merupakan kasus infeksi baru. Hasil tes diberikan melalui surat atau telepon, tergantung pilihan masing-masing partisipan.

Dr Elliot mengatakan program ini dapat menjadi solusi karena sebagian besar partisipan merupakan pria gay dewasa yang sebelumnya tidak pernah melakukan tes HIV. Ia berharap program ini dapat dilakukan di seluruh Inggirs dan menjadi metode skrining baru.

“Kami mendapat kasus baru yang berasal dari orang-orang yang sebelumnya tidak atau belum mau melakukan tes. Tentunya ini merupakan kemajuan,” ungkapnya.

Studi ini diterbitkan di jurnal Sexually Transmitted Infections. PT Bestprofit Futures Medan

Sumber oleh : health.detik.com