PT Bestprofit Medan

Yang Terjadi di Otak Perokok Saat Berusaha Berhenti Merokok

PT. Best Profit Futures Medan – Jakarta, CNN Indonesia — Perokok yang menghentikan kebiasaan merokok memiliki otak yang terprogram untuk menjadi sukses. Hal ini memungkinkan terjadi karena dua daerah di otak manusia yang berperan dalam mengendalikan dorongan merokok, berdasarkan penelitian di Amerika Serikat.

Peneliti mengulas pemindaian otak para perokok yang mencoba berhenti merokok. Mereka menemukan, orang-orang yang berhasil untuk menghentikan kebiasaan merokok memiliki satu kesamaan.

Yakni, hubungan yang lebih kuat antara insula, yaitu area di otak yang mengendalikan dorongan dan keinginan, dan korteks somatensori, yang menangani sentuhan dan kontrol motorik.

“Insula merupakan wilayah di otak yang berperan agar seseorang menyadari sensasi fisik, seperti sakit, jijik, keinginan, dan emosi,” kata penulis utama penelitian Merideth Addicott, peneliti psikiatri dan ilmu perilaku di Universitas Duke di Durham, North Carolina, seperti dilansir dari laman Reuters.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami hubungan antara dua daerah di otak tersebut bekerja. Sementara itu, para ilmuwan percaya insula bertanggung jawab untuk mengirimkan informasi tentang keinginan ke area lain di otak, otak kemudian memutuskan bagaimana bereaksi.

“Korteks somatosensori penting untuk gerakan yang mengontrol perilaku, sehingga masuk akal jika dia juga terlibat dalam keputusan berhenti merokok,” kata Addicott.

Untuk melihat seperti apa rupa otak pada para perokok yang memutuskan untuk berhenti, peneliti melakukan pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) terhadap 85 orang selama satu bulan sebelum mereka mencoba untuk berhenti merokok.

Mereka kemudian diikuti selama sepuluh minggu untuk mengetahui apakah mereka berhasil (berhenti merokok).

Di awal penelitian, rata-rata peserta merokok sebanyak 19 batang satu hari, dan sudah merokok selama kira-kira 19 tahun. Usia mereka rata-rata 38 tahun, lebih dari setengah dari jumlah responden adalah perempuan.

Responden mendapatkan patch nikotin untuk membantu mereka berhenti, serta menerima sedikit nasihat dan dukungan tambahan untuk keberhasilan berhenti merokok. Selama masa penelitian, sekitar setengah dari perokok tersebut berhasil berhenti.

Sisanya, kambuh di beberapa di beberapa titik waktu. Mereka merokok setidaknya satu batang rokok setiap hari selama satu minggu.

Satu hal yang menjadi kekurangan penelitian ini, karena bergantung pada kejujuran peserta untuk melaporkan apakah mereka berhenti merokok. Kelemahan lain, kurangnya pengulangan pemindaian MRI selama periode penelitian, kata para peneliti mengakui dalam jurnal  Neuropsychopharmacology.

Sumber Oleh : cnnindonesia.com